Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

Wajah Yang Telanjang


Paul Ekman merupakan seorang psikolog yang mempunyai keahlian untuk membaca emosi atau perasaan seseorang hanya dengan melihat wajah seseorang dalam waktu dua detik atau sesaat. Emosi seseorang tersebut terlihat dalam sekejap diantara mimik wajahnya yang secara umum menggambarkan emosi yang umum. Namun pada saat tertentu, Ekman mampu mendeteksi gerakan wajah yang menyingkapkan perasaan seseorang sesungguhnya diantara ekspresi sebenarnya yang disembunyikannya.

Kemampuan luar biasanya tersebut dapat terlihat dari beberapa kasus. Ekman mampu memperkirakan bahwa seorang saksi dalam pengadilan berbohong dengan melihat tayangan video. Mimik wajah yang berubah dalam waktu singkat diantara ekspresi wajahnya yang menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Perubahan wajah Kato Kaelin sebagai saksi dalam persidangan kasus O.J. Simpson dapat dibaca oleh Ekman. Kaelin pada saat itu dalam sepersekian detik mengubah wajahnya yaitu hidungnya mengerut sewaktu mengencangkat otot levator labii superiors alaeque nasi-nya, giginya terbuka lebar dan alisnya turun dengan hampir sepenuhnya satuan aksi sembilan. Mimik tersebut menunjukkan rasa jijik, juga marah padahal kelihatan dia lembut menurut kebanyakan orang, hampir tidak kelihatan. Hal tersebut tidak dapat diketahui oleh orang lain di persidangan. Pada kasus yang lain, Dalam konferensi pers Philby tahun 1955 ketika tersingkap sebagai mata-mata Soviet tampak menurut kebanyakan orang bahwa dia tidak berbohong untuk berkhianat. Namun Ekman tahu bakwa dia berbohong berdasarkan mimik wajah.

Dari beberapa kasus di atas dapat diketahui bahwa wajah merupakan sumber informasi yang kaya mengenai emosi atau perasaan seseorang sesungguhnya. Bisa saja dalam keadaan biasa, wajah seseorang berbentuk sedemikian rupa untuk menutup perasaan hati sesungguhnya, namun pada waktu beberapa detik atau dalam sekejap, perasaan seseorang tersebut terekspresikan dalam wajahnya. Kutipan Ekman yang cukup penting yaitu “informasi pada wajah kita tidak hanya sekadar isyarat tentang yang terjadi dalam pikiran kita, tetapi juga mengatur yang akan terjadi dalam pikiran kita”. Mimik wajah menunjukkan perasaan seseorang dan berkaitan erat pula dengan kondisi bagian tubuh yang lain. Ekman menguraikan mengenai dasar fisiologis untuk cara kita membuat cuplikan tipis tentang orang lain. Kita semua bisa membaca pikiran orang lain dengan mudah dan otomatis karena petunjuk-petunjuk yang kita perlukan untuk memahami seseorang atau situasi sosial memang tersedia di wajah-wajah semua orang yang kita jumpai. Untuk mengetahui hubungan antara mimik wajah, kondisi tubuh dan perasaan seseorang. Ekman melakukan berbagai eksperimen. Eksperimen sederhana antara Ekman dan Friesen dengan duduk berhadap-hadapan dengan mimik wajah marah dan cemas dengan dilakukan setiap hari namun mereka merasa sangat tidak enak setelah melakukannya. Kemudian mereka memantau tubuh mereka selama gerakan-gerakan wajah tertentu dengan berbagai variasi dan kombinasi gerak bagian wajah (alis, pipi, bibir, mata dsb). Hasilnya, mimik wajah saja cukup untuk menciptakan perubahan mencolok dalam sistem saraf otonom yang bisa membangkitkan kesedihan, kesusahan, kemarahan dsb mempengaruhi bagian tubuh yang lain (misal, tangan bisa lebih panas).

Eksperimen kedua adalah Ekman, Friesen, dan Levenson mendokumentasikan efek mimik wajah dan kondisi bagian tubuh yang lain, dengan menghubungkan dengan monitor untuk mengukur laju denyut jantung dan temperatur tubuh pada beberapa relawan (dalam fisiologi dikenal sebagai tanda-tanda emosi seperti marah, sedih, dan takut). Kelompok pertama, setengah relawan diminta untuk mengingat pengalaman masing-masing yang berat, setengahnya diminta untuk memeragakan mimik-mimik wajah yang sesuai dengan emosi tersebut. Kelompok kedua diminta berakting menunjukkan tanggapan fisiologis yang sama, ternyata hasilnya kenaikan denyut jantung sama, kenaikan suhu tubuh sama dengan kelompok pertama.

disadur dari 'blink' karya Malcolm Gladwell